“Kebanggaan kalian sebagai santri bukan terletak pada pakaian kalian,
ilmu hebat yang kalian miliki dan gelar yang kalian dapat...
Akan tetapi..
amanah yang kalian jalankan dari orang tua, pengabdian yang tulus kepada ,guru,
sikap rendah hati dan bersahaja yang dimiliki serta keihklasan dalam
mengamalkan ilmu... walaupun hanya secercah yang dimiliki
Dan..
Cinta kepada
Allah, Rasul-Nya, Keluarga Rasul dan Para Sahabat serta Para Warisatul
Anbiya...
Adalah kebanggaan
kalian sebagai Santri...
Ibnu sabil yang
berjihad di dalam penjara suci..
Ingatlah...
setiap coretan yang kalian dapat merupakan tanggungjawab yang mulia..”
KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah Tuhan Semesta alam yang
telah memberikan kekuatan dan hidayah bagi hamba yang lemah ini. Tidak ada daya
dan upaya kecuali atas kekuatan Allah semata. Sholawat dan salam semoga
dilimpahkan kepada Rasulullah S.A.W. baik keluarganya, sahabatnya hingga kita sebagai
pengikutnya sampai akhir zaman, amin. Blog ini dibuat hanya untuk meluapkan
kenangan pribadi penulis berbagi pengalaman yang di dapat selama penulis berada
di sebuah pondok kecil yang penuh makna dan pelajaran yang dalam.
Blog ini diharapkan menjadi semangat dan motivasi
bagi sahabat-sahabat yang ingin mengenal dunia pesantren, khususnya pesantren
salafiah. Melihat kehidupan mereka dari berbagai sisi.
Tidak lupa ucapan terima kasih penulis sampaikan
kepada:
1.
Ayah dan Bunda, walaupun kita berbeda iman semoga
kelak Allah memberikan Hidayah untuk mereka.
2.
Pimpinan PonPes At-taubah yang bersedia mengasuhku
dari gelap menuju cahaya (semoga Allah memuliakan beliau).
3.
Adik-adik tercinta (Tomas Bagas Goro Tamba, Mentari
Tamba, Cristin Ivana Tamba) dimana senyum kalian adalah penyemangat bagiku.
4.
Sahabat-sahabat seperjuangan di PonPes At-taubah
yang telah memberikan banyak cerita dan pelajaran berharga.
5.
Kawan-kawan di SMAN 1 Cibinong, dan Fakultas Hukum
Universitas Pakuan angkatan 2010, tiada cerita tanpa kebersamaan kalian.
Dan mereka yang banyak berjasa tetapi tidak dapat
disebutkan namanya satu persatu, semoga Allah membalas setiap kebaikan yang
telah diperbuat dan menempatkan kalian pada sebaik-baiknya derajat yang mulian,
amin.
PROLOG
Langit biru
mulai terang. Berjalan bersma nyokab, membuat setiap mata menatap kearah gw
sama nyokab (kaya jalan di catwalk ajah), pasalnya gw jalan sambil nenteng dua
kardus indomi yang lumayan besar, ditambah tas punggung yang udah sesak dengan
buku-buku pelajaran sekolah, udah kaya orang mau mudik..
Kardus yang
gw jinjing dikanan isinya baju seragam sekolah dan sepasang sepatu yang
dibungkus cantik dengan kantong kresek hitam lalu dijejalkan didalam bersama
baju-baju. Yang satu lagi pakaian sehari-hari berikut sempak yang masih layak
untuk dijual kembali hee..bisa di tes.. :p
Gw ga tau
kemana nyokab ngajak gw jalan, menyusuri sebuah gang yang muat satu mobil
dengan judul “Gg. Sadar” wahh.. gokil nih.. pasti orangnya alim-alim..
Setelah
berjalan lumayan cukup jauh akhirnya tibalah sampai dipenghujung acara..(bahasa
tipi).. iyaa.. maksudnya mah acara jalan kaki. Di hadapan gw berdiri tegak
sebuah bangunan dengan suasana yang sejuk banget.. dan akhirnya sampailah pada
sebuah pintu rumah.
“Tok-tok-tok”
nyokab ngetuk pintu sambil ngucap salam
“Assalamualaikum..”
Tidak lama pintu
dibuka dan keluarlah seorang laki-laki yang terlihat masih muda dengan
menggunakan kopiah hitam, baju koko berwarna biru dan menggunakan sarung.
“waalaikumsalam..”
sahut laki-laki tersebut.
“Mangga asup
ka lebet..(silahkan masuk ke dalam).. magga calik.. (silahkan duduk)..”
mempersilahkan kami masuk dan duduk.
“Aya priyogi
naon nya..(ada keperluan apa)..?” tanya laki-laki tersebut.
“Ieu Pak
Kyai, abdi bade nitipken putra abdi di dieu kanggo ngaji..(saya mau nitipkan
anak saya untuk ngaji)..” jawab nyokab gw.
Setelah itu
mereka bercakap-cakap dengan menggunakan bahasa Jerman mentok dikit deket garut
lah.. alias bahasa Sunda, bahasa yang sehari-hari dipakai di daerah itu dan gw
sendiri blum ngerti apa-apa. Walau dari S1 alias SD gw belajar bahasa Sunda,
tetep ajah gw blum paham.. yang gw tau ya bahasa
“aing(saya)..modol(pup)..sia(kamu)dahar(makan)..” gitu..
Wajar ajah gw
ga mahir.. tiap ada PR ajah gw minjem buku orang untuk kemudian gw salain
kembali karna gw ga ngerti dan bukan keturunan orang Sunda..
Setelah
mereka bercakap-cakap, kemudian gw ditinggal sendiri dan Pak Kyai manggil salah
satu santrinya untuk mengantar gw ke kamar yang bakal jadi tempat gw..
Disitulah
awal perpisahan gw dengan keluarga gw, gw meninggalkan zona nyaman untuk
kemudian banyak belajar di tempat yang gw tempatin sekarang.. Pondok Pesantren
At Taubah namanya, rumahnya para penuntut ilmu.. jauh dari sentuhan gemerlapnya
dunia..
Sejenak
dalam pikiran gw.. pesantren itu tempat yang sangat menakutkan.. angker..
ngerii.. lebih serem dari film kartun.. pasalnya di komplek perumahan yang gw
tinggalin, setiap ada anak yang suka bikin onar, mabok-mabokan sampai hal-hal
negatif lainnya.. pasti orang tuanya bilang.. “Lo kalo ga nurut sama orang tua,
gua masukin ke Psantren juga..!!” wuihh.. apa ga ngeri.. jadi dalam bayangan
gw, Pesantren itu pasti banyak orang-orang yang sangarr.. angker.. bengis..
kejam... ohh... tidakkkk.... pengen nangisss... maaa... kok tega ninggalin
sendiri disini... hiks..
Gw
dititipin di pondok bukan karena tingkah laku gw yang buruk, tp karna perbedaan
keyakinan dengan keluarga gw, dimana gw memilih untuk menjadi seorang muslim dan
meninggalkan rumah untuk menghormati kedua orang tua gw yang berbeda
keyakinan..
King Vs Minan
Bisa
dibilang antara Mang Ocid dan Minan itu musuh bebuyutan walau masih satu daerah
yaitu Karawang. Minan merupakan santri baru yang cepat tanggap, namun kadang
sering salah dalam menerapkan hukum, hal ini yang buat Mang Ocid jengkel dan
Minan juga merupakan santri relawan yang dimaksud pada cerita sebelumnya. Pada
suatu ketika, sang guru memita Mang Ocid menggantikan beliau mengajar santri
yang lain pada pengajian bada Isya. Waktu itu, sehabis magrib, gw diminta
menghafal sebuah hafalan oleh Mang Ocid, ya gw laksanain seperti biasa. Ga
banyak koq, hanya beberapa hukum dan ta’rif serta beberapa bait Alfiah.
Pengajian
bada Isya pun di mulai, setelah santri berkumpul, seperti biasa Mang Ocid
memulai kajian kitab kuningnya tentang sastra Arab (Kitab Mukhtashor Jidan,
merupakan kitab alat, sarah dari kitab Jurumiyah yang merupakan ilmu Nahwu).
Sampailah pada sesi pertanyaan dimana satu persatu ditanya hingga sampai pada
Minan yang mulai dicecar pertanyaan-pertanyaan bertubi-tubi, sampai pada akhir
dari level talaranya (hafalannya) Minanpun takluk tak bisa menjawab pertanyaan
Mang Ocid, karena gw santri baru 3 bulan, gw jarang mendapat pertanyaan,
walaupun terkadang gw tahu jawabannya.
Tiba-tiba
pertanyaan Minan di lempar sama ke gw oleh Mang Ocid, Nah lohh.. Minan ajah
yang tergolong rajin menghafal ga bisa jawab pertanyaan apa lagi gw.. mati..!
Mang Ocid
pun kembali mengulang pertanyaannya.. dan.. gw pun langsung menjawab pertanyaan
demi pertanyaan yang ditanyakan oleh Mang Ocid dengan lancar. Santri yang lain
pun terbengong-bengong dan terkagum-kagum termasuk Minan..
“Tuh Nan..
si King ajah bisa jawab, padahal masih baru..” sindir Mang Ocid.
Minan pun
tertunduk malu.
Gimana ga lancar, lah.. jawaban dari pertanyaannya kan hafalan yang baru
ajah disuruh hafalin oleh Mang Ocid, yaiyalah gw bisa jawab.. hahahaha.. mulai
hari itu gw ngerti maksud dari Mang Ocid nyuruh gw menghapal, sejak saat itu
pula semua hafalan Jurumiyah dan eraban (merupakan hafalan kalimat beserta
hukumnya dalam bahasa arab) mulai gw tekuni.
Gw ga mau kalah dengan santri yang lain..!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar