Jumat, 18 Juli 2014

Sebuah Coretan Terakhir di Pesantren


Kebanggaan kalian sebagai santri bukan terletak pada pakaian kalian, ilmu hebat yang kalian miliki dan gelar yang kalian dapat...
Akan tetapi.. amanah yang kalian jalankan dari orang tua, pengabdian yang tulus kepada ,guru, sikap rendah hati dan bersahaja yang dimiliki serta keihklasan dalam mengamalkan ilmu... walaupun hanya secercah yang dimiliki
Dan..
Cinta kepada Allah, Rasul-Nya, Keluarga Rasul dan Para Sahabat serta Para Warisatul Anbiya...
Adalah kebanggaan kalian sebagai Santri...
Ibnu sabil yang berjihad di dalam penjara suci..
Ingatlah... setiap coretan yang kalian dapat merupakan tanggungjawab yang mulia..”

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah Tuhan Semesta alam yang telah memberikan kekuatan dan hidayah bagi hamba yang lemah ini. Tidak ada daya dan upaya kecuali atas kekuatan Allah semata. Sholawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Rasulullah S.A.W. baik  keluarganya, sahabatnya hingga kita sebagai pengikutnya sampai akhir zaman, amin. Blog ini dibuat hanya untuk meluapkan kenangan pribadi penulis berbagi pengalaman yang di dapat selama penulis berada di sebuah pondok kecil yang penuh makna dan pelajaran yang dalam.
Blog ini diharapkan menjadi semangat dan motivasi bagi sahabat-sahabat yang ingin mengenal dunia pesantren, khususnya pesantren salafiah. Melihat kehidupan mereka dari berbagai sisi.
Tidak lupa ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada:
1.    Ayah dan Bunda, walaupun kita berbeda iman semoga kelak Allah memberikan Hidayah untuk mereka.
2.    Pimpinan PonPes At-taubah yang bersedia mengasuhku dari gelap menuju cahaya (semoga Allah memuliakan beliau).
3.    Adik-adik tercinta (Tomas Bagas Goro Tamba, Mentari Tamba, Cristin Ivana Tamba) dimana senyum kalian adalah penyemangat bagiku.
4.    Sahabat-sahabat seperjuangan di PonPes At-taubah yang telah memberikan banyak cerita dan pelajaran berharga.
5.    Kawan-kawan di SMAN 1 Cibinong, dan Fakultas Hukum Universitas Pakuan angkatan 2010, tiada cerita tanpa kebersamaan kalian.
Dan mereka yang banyak berjasa tetapi tidak dapat disebutkan namanya satu persatu, semoga Allah membalas setiap kebaikan yang telah diperbuat dan menempatkan kalian pada sebaik-baiknya derajat yang mulian, amin.


PROLOG

Langit biru mulai terang. Berjalan bersma nyokab, membuat setiap mata menatap kearah gw sama nyokab (kaya jalan di catwalk ajah), pasalnya gw jalan sambil nenteng dua kardus indomi yang lumayan besar, ditambah tas punggung yang udah sesak dengan buku-buku pelajaran sekolah, udah kaya orang mau mudik..
Kardus yang gw jinjing dikanan isinya baju seragam sekolah dan sepasang sepatu yang dibungkus cantik dengan kantong kresek hitam lalu dijejalkan didalam bersama baju-baju. Yang satu lagi pakaian sehari-hari berikut sempak yang masih layak untuk dijual kembali hee..bisa di tes.. :p
Gw ga tau kemana nyokab ngajak gw jalan, menyusuri sebuah gang yang muat satu mobil dengan judul “Gg. Sadar” wahh.. gokil nih.. pasti orangnya alim-alim..
Setelah berjalan lumayan cukup jauh akhirnya tibalah sampai dipenghujung acara..(bahasa tipi).. iyaa.. maksudnya mah acara jalan kaki. Di hadapan gw berdiri tegak sebuah bangunan dengan suasana yang sejuk banget.. dan akhirnya sampailah pada sebuah pintu rumah.
“Tok-tok-tok” nyokab ngetuk pintu sambil ngucap salam
“Assalamualaikum..”
Tidak lama pintu dibuka dan keluarlah seorang laki-laki yang terlihat masih muda dengan menggunakan kopiah hitam, baju koko berwarna biru dan menggunakan sarung.
“waalaikumsalam..” sahut laki-laki tersebut.
“Mangga asup ka lebet..(silahkan masuk ke dalam).. magga calik.. (silahkan duduk)..” mempersilahkan kami masuk dan duduk.
“Aya priyogi naon nya..(ada keperluan apa)..?” tanya laki-laki tersebut.
“Ieu Pak Kyai, abdi bade nitipken putra abdi di dieu kanggo ngaji..(saya mau nitipkan anak saya untuk ngaji)..” jawab nyokab gw.
Setelah itu mereka bercakap-cakap dengan menggunakan bahasa Jerman mentok dikit deket garut lah.. alias bahasa Sunda, bahasa yang sehari-hari dipakai di daerah itu dan gw sendiri blum ngerti apa-apa. Walau dari S1 alias SD gw belajar bahasa Sunda, tetep ajah gw blum paham.. yang gw tau ya bahasa “aing(saya)..modol(pup)..sia(kamu)dahar(makan)..” gitu..
Wajar ajah gw ga mahir.. tiap ada PR ajah gw minjem buku orang untuk kemudian gw salain kembali karna gw ga ngerti dan bukan keturunan orang Sunda..
Setelah mereka bercakap-cakap, kemudian gw ditinggal sendiri dan Pak Kyai manggil salah satu santrinya untuk mengantar gw ke kamar yang bakal jadi tempat gw..
Disitulah awal perpisahan gw dengan keluarga gw, gw meninggalkan zona nyaman untuk kemudian banyak belajar di tempat yang gw tempatin sekarang.. Pondok Pesantren At Taubah namanya, rumahnya para penuntut ilmu.. jauh dari sentuhan gemerlapnya dunia..
Sejenak dalam pikiran gw.. pesantren itu tempat yang sangat menakutkan.. angker.. ngerii.. lebih serem dari film kartun.. pasalnya di komplek perumahan yang gw tinggalin, setiap ada anak yang suka bikin onar, mabok-mabokan sampai hal-hal negatif lainnya.. pasti orang tuanya bilang.. “Lo kalo ga nurut sama orang tua, gua masukin ke Psantren juga..!!” wuihh.. apa ga ngeri.. jadi dalam bayangan gw, Pesantren itu pasti banyak orang-orang yang sangarr.. angker.. bengis.. kejam... ohh... tidakkkk.... pengen nangisss... maaa... kok tega ninggalin sendiri disini... hiks..
Gw dititipin di pondok bukan karena tingkah laku gw yang buruk, tp karna perbedaan keyakinan dengan keluarga gw, dimana gw memilih untuk menjadi seorang muslim dan meninggalkan rumah untuk menghormati kedua orang tua gw yang berbeda keyakinan..





King Vs Minan
Bisa dibilang antara Mang Ocid dan Minan itu musuh bebuyutan walau masih satu daerah yaitu Karawang. Minan merupakan santri baru yang cepat tanggap, namun kadang sering salah dalam menerapkan hukum, hal ini yang buat Mang Ocid jengkel dan Minan juga merupakan santri relawan yang dimaksud pada cerita sebelumnya. Pada suatu ketika, sang guru memita Mang Ocid menggantikan beliau mengajar santri yang lain pada pengajian bada Isya. Waktu itu, sehabis magrib, gw diminta menghafal sebuah hafalan oleh Mang Ocid, ya gw laksanain seperti biasa. Ga banyak koq, hanya beberapa hukum dan ta’rif serta beberapa bait Alfiah.
Pengajian bada Isya pun di mulai, setelah santri berkumpul, seperti biasa Mang Ocid memulai kajian kitab kuningnya tentang sastra Arab (Kitab Mukhtashor Jidan, merupakan kitab alat, sarah dari kitab Jurumiyah yang merupakan ilmu Nahwu). Sampailah pada sesi pertanyaan dimana satu persatu ditanya hingga sampai pada Minan yang mulai dicecar pertanyaan-pertanyaan bertubi-tubi, sampai pada akhir dari level talaranya (hafalannya) Minanpun takluk tak bisa menjawab pertanyaan Mang Ocid, karena gw santri baru 3 bulan, gw jarang mendapat pertanyaan, walaupun terkadang gw tahu jawabannya.
Tiba-tiba pertanyaan Minan di lempar sama ke gw oleh Mang Ocid, Nah lohh.. Minan ajah yang tergolong rajin menghafal ga bisa jawab pertanyaan apa lagi gw.. mati..!
Mang Ocid pun kembali mengulang pertanyaannya.. dan.. gw pun langsung menjawab pertanyaan demi pertanyaan yang ditanyakan oleh Mang Ocid dengan lancar. Santri yang lain pun terbengong-bengong dan terkagum-kagum termasuk Minan..
“Tuh Nan.. si King ajah bisa jawab, padahal masih baru..” sindir Mang Ocid.
Minan pun tertunduk malu.
Gimana ga lancar, lah.. jawaban dari pertanyaannya kan hafalan yang baru ajah disuruh hafalin oleh Mang Ocid, yaiyalah gw bisa jawab.. hahahaha.. mulai hari itu gw ngerti maksud dari Mang Ocid nyuruh gw menghapal, sejak saat itu pula semua hafalan Jurumiyah dan eraban (merupakan hafalan kalimat beserta hukumnya dalam bahasa arab) mulai gw tekuni.
Gw ga mau kalah dengan santri yang lain..!



Tidak ada komentar:

Posting Komentar