Jumat, 18 Juli 2014

DARJA

Jalan petantang - petenteng, dengan gaya ala preman dan sebatang rokok kretek ditangannya, menghisap rokok layaknya orang dewasa, fuihhh... hembusan asap biru putih melayang di udara dari seorang anak, usianya saat itu baru 4 tahun, bayangkan usia 4 TAHUN..! santri termuda..!!!

Julukan si “Laler Pondok”
Siapa yang ga greget dengan bocah yang satu ini, udah banyak catatan kriminal yang dibuat oleh anak yang satu ini. Bocah dengan tampang tengil dan memiliki ciri khas yaitu sebuah tato alami bawaan lahir yang memenuhi seluruh pipi bagian kanannya. Selidik punya selidik, iseng ajah saat gw udah deket sama tuh anak, gw penasaran dengan bertanya sejarah asal mula tanda di pipinya, dengan nyantai dia jawab,

“Gini king, asal mula gw punya tanda hitam di pipi, dulu gw bandel pas mau diturunin malaikat ke bumi, jadi ajah gw ditabok ampe gosong gini dah, hahahaha…”

“?” gw cuman cengo doank…

Salah satu catatan kriminal yang tidak bisa dilupakan yaitu terjadi ketika…
Di suatu hari, saat adzan ashar berkumandang, semua santri bergegas menuju musholla untuk melaksanakan sholat berjamaah. Eng..ing..eng.. Sholat pun dimulai, imam telah siap, barisan mamum sudah siap, di saf (barisan pertama) terdiri dari 8 orang dan saf kedua berisi 3 orang. Tak lama kemudian, muncullah si “Laler Pondok” masuk ke musholla dengan berjalan ringan dan sebatang rokok kretek.. (sedooot..fuihh..seddoott…fuih...)

“Nananananana….” Darja berdendang dengan ceria.

Lalu kemudia…..sret..! tatapan mata jahatnya mulai membidik pada salah satu santri yang boleh dibilang apes banget yang ada di barisan saf pertama.

“hehehehe…” senyum jahat pun mulai keluar (tanduknya mungkin udah keluar 7 di kepala sangkin jahatnya).

Darja pun melancarkan aksinya, meletakan rokok di deket jendela musholla lalu berjalan mendekati sang target. Dengan senyum sumbringah dan tatapan mata yang jahat… ia mulai mendekati perlahan… sebut saja namanya Goming, saat sedang berdiri di rakaat ke-2, Darja mulai mengangkat sarung Goming (maklumlah santri itu selalu identik dengan kopiah, baju koko dan sarung).

“Sreeettttt…!!!” sarung pun terangkat.

Dan masyaalloh…!!!

Tak ada celana dalam yang menutupi keindahan bokong Goming. Anjriittt.. gw yang sholat di barisan belakang bersama dua orang temen gw yang ikut sholat berusaha menahan tawa gw dalam sholat. Sekuat apapun gw menutup mata dan fokus sholat, semakin hebat bayangan bokongnya yang nampol dalam otak gw.

“Ammpuuuuunnn… ga kuat gw.. hahahahahah” akhirnya gw bertiga melepaskan tawa walau sudah berusaha susah payah untuk tidak tertawa, alhasil klo yang satu udah ketawa, yang lain juga ikut ketawa. Darja hanya cengar-cengir ke arah kita sambil mengangkat-ngangkat sarung Goming.

“Eaaaaaa….hehehehe…..eeaaaa…hehehe…”

“Haduh…” sampe lemes gw bertiga ketawa, sedang yang lain, imam dan mamum di saf satu masih khusyu melaksanakan ibadah sholat termasuk Goming yang belum sadar akan ulah yang dilakukan Darja. Saat berpindah ke ruku, Darja mulai menghentikan aksinya dan bergegas kabuuuurrr.

Sejak peristiwa itu, gw selalu berhati-hati untuk selalu memakai celana pendek atau minimal segitiga pengaman lah.. bahaya kalo sampai isi sarung gw sampai ter-ekspose J

Julukan si “Diam-diam Bau”
Predikat berikutnya didapat saat darja masik kecil sekitar usia 3 tahun. Suatu sore yang cerah, sambil menunggu waktu magrib, terlihat darja sedang jongkok asik di deket kolam tempat wudhu. Ada salah satu santri yang penasaran dengan apa yang sedang dikerjakan Darja, santri tersebut sedang duduk asik di sebelah kobong dan melihat Darja jongkok tanpa celana, maklum lah tak ada kecurigaan, anak kecil mah kan kadang suka jarang mau pake celana di daerah pondok gw mah. Adu mata pun terjadi di jarak 15 m jauhnya.

“Wooiii..Darja.. lagi ngapain…?” tannya sang santri.

Tak ada jawaban.

“Ja…ngapain..??” Tanya nya lagi.

Masih tak ada jawaban.

“woooii.. ngapain sih lo disitu..?” tanyanya penasaran sambil mulai melangkahkan kakinya menuju tempat si Darja.

Saat disamperin, Darja mulai berdiri dan kabur menuju rumah. Santri itu pun akhirnya sampai pada tempat sebelumnya Darja jongkok.

“Astagfirulloh haladziiimmmm….aaiihhhh…nyesel gw ngeliatnya…” melas.

Santri itu melihat sebuah tumpukan khas berwarna kuning dengan taburan lalat-lalat yang mempesona. Sejak saat itu cerita akan tingkah laku Darja mulai menyebar seiring dengan bau yang ditimbulkan olehnya.

Kesaktian Darja
Inilah dia kesaktian yang dimiliki Darja, mata saktinya ini didapat dan dilatih dengan mengintip orang mandi, bintit demi bintit sudah tak mempan lagi dimatanya, dimana saja, kapan saja, saat ada kesempatan dia langsung beraksi..!

Dengan kesaktiannya, Darja bisa merubah waktu 14 jam puasa Ramadhan menjadi 5 menit…!! gimana caranya..?

Jawab: setelah adzan subuh dan menunaikan sholat Subuh berjamaah, darja mulai berbaring dan tidur sepanjang hari hingga ia bangun 5 menit menjelang Magrib dan itu dilakukan rutin selama satu bulan penuh selama Ramadhan. Ketika ditanya akan kebiasaanya, dengan ringan dia jawab…

“Tidurnya orang puasa itu kan ibadah, jadi gw cape banget nih abis ibadah seharian…hahahaha…”

“Haeduhhh.. apaan yang ibadah tong..! dasar bocaahhh…” pikir gw dalam hati.

Jadi inget dulu, gw sering bantuin Darja ngerjain PR saat Darja masih SD, yahh.. walau ada beberapa PR yang gw kasih tau semua jawabannya tanpa proses heheheh... Biar kata Darja banyak ulah, tapi dibalik kelakuannya yang ancur, ternyata memiliki sisi baik, kini di usianya yang beranjak dewasa dan menginjak sekolah SMP di salah satu SMP swasta, perubahan sikap terjadi, Darja berubah menjadi sosok yang penurut, setia kawan dan membuat suasana selalu menjadi ceria. Kepribadiannya yang baik mulai membuat Darja disukai banyak teman. seiring dengan perubahan sikap menjadi lebih baik, tanda kutukan di pipinyapun  mulai memudar (hihihi), tetap semangatlah Darja dalam menuntut ilmu dan meraih apa yang kamu cita-citakan. sukses selalu.. J




Tidak ada komentar:

Posting Komentar